Butuh waktu kurang lebih tiga puluh menit berkendara dari Bandar Udara Binaka menuju Gunung sitoli bagian barat, kita akan menemukan sebuah perkampungan tradisional bernama desa Tumöri yang terletak di kecamatan Gunungsitoli Barat. Nama Tumöri berasal dari nama sebuah pohon raksasa yang ditemukan oleh pendirinya di masa lampau. Diperkampungan tradisional ini kita dapat menjumpai 10 rumah adat khas Nias bagian Utara yang berusia antara 50-120 tahun. Pada Awalnya terdapat 21 rumah adat di desa ini, namun 9 buah dirubuhkan oleh para ahli warisnya akibat adanya perselisihan antar sesama ahli waris serta ketidaksanggupan akan biaya pemeliharaan (mengingat biaya pemeliharaan rumah adat ini sangat besar), sementara 2 lainnya yang memang sudah berusia sangat tua roboh akibat gempa pada tahun 2005 yang lalu. Sejarah Omo Hada, Rumah Adat Nias Foto by ARSITAG Rumah adat Nias atau yang biasa disebut dengan Omo Hada adalah suatu bentuk rumah panggung tradisional orang Nias, yaitu untuk masya...
Mencari tempat tinggal di Bali untuk lebih dari beberapa minggu bisa cepat terasa melelahkan. Sebagian besar rental masih dibagikan melalui grup WhatsApp, channel Telegram, halaman Instagram, atau postingan Facebook. Anda menghubungi satu orang, lalu orang lain, lalu diarahkan lagi ke pihak berikutnya. Terkadang foto terlihat berbeda dari properti aslinya. Kadang tempatnya sudah terisi meskipun listing masih online. Beberapa properti menghilang setelah beberapa hari. Yang lain ternyata memiliki harga berbeda setelah Anda menghubungi agen. Biaya broker juga menambah lapisan lain dalam proses ini. Tergantung area dan durasi sewa, perantara bisa mengambil 10% hingga 30% dari sebuah transaksi. Untuk penyewa yang tinggal di Bali selama satu hingga enam bulan, ini bisa menjadi biaya tambahan yang cukup terasa. Source: Pexels Pemilik properti juga menghadapi masalah mereka sendiri. Banyak yang masih mengelola pemesanan secara manual melalui aplikasi pesan sambil menangani pertanyaan berul...