Langsung ke konten utama

Liputan Trip Explore Pacitan Part 27

Bicara mengenai Pacitan memang gak ada habisnya. Salah satu kabupaten yang berada di Jawa Timur ini terkenal dengan surga nya pantai dan goa. Karena kepopuleran wisata Pacitan sudah merajalela mulai dari Sungai Maron, Goa Gong, hingga Pantai Kasap yang di juluki Raja Ampat nya Pacitan, Backpacker Jakarta kembali mengunjungi lokasi ini untuk ke 27 kalinya.

Dipandu oleh Ka Tata dan Ka Adhe sebagai CP, perjalanan selama 2 hari dikenakan biaya sharing cost sebesar Rp 511.184 (member) dan Rp 551.184 (non-member) dengan meeting point di Stasiun Tugu Yogya, 18 April 2026, jam 06.00 pagi.

CP : Ka Tata dan Ka Adhe

Menyusuri keindahan Sungai Maron dan Pantai Ngiroboyo

Karena waktu masih sangat pagi, kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan yang lumayan panjang ke destinasi pertama yaitu Sungai Maron dan Pantai Ngiroboyo. Memakan waktu kurang lebih 4 jam menggunakan elf, akhirnya kami pun tiba sekitar jam 11.00 siang. Disana ada warung dan beberapa jajanan, jadi kami juga menyempatkan diri untuk santai sejenak dan isi perut karena jalur yang dilewati tadi cukup berliku, serta naik-turun perbukitan.

Sungai Maron
Pacitan
Sungai Maron
Sungai Maron
Sungai Maron

Untuk menyusuri Sungai Maron, kami dibagi menjadi beberapa bagian karena 1 perahu hanya bisa diisi oleh 4 orang. Untuk panjang  sungai nya sekitar 4 kilometer sekali jalan, dengan vegetasi yang di dominasi pohon kelapa dan beberapa pohon lain di kiri-kanan nya. Oh iya, Sungai Maron merupakan jalur utama menuju Pantai Ngiroboyo juga.

Pantai Ngiroboyo
Pantai Ngiroboyo

Permata Putih di Pantai Srau dan Watu Karung

Waktu tiba di Pantai Srau sekitar jam 14.30, air nya sedang surut dan cuaca lumayan panas. Jadi kami gak menghabiskan waktu berlama-lama di pantai yang memiliki pasir putih ini yakni hanya 30 menit. Setelah ambil foto dan video, terutama di spot pohon kelapa yang menjulang tinggi, kami memutuskan untuk pindah ke Watu Karung mengingat udah mau menuju sunset.

Pantai Srau
Pantai Srau

Sama seperti Pantai Srau, disini juga sedang surut airnya. Jadi beberapa dari kami bisa ambil foto lebih dekat di spot favorite yakni batu karang yang besar di tengah laut dengan menyusuri bebatuan. Sebagian nya lagi, lebih menikmati suasana dan keindahan di bibir pantai. Cuaca adem, matahari juga udah mulai turun, kami pun bergegas pindah ke lokasi wisata terakhir dihari pertama untuk melihat sunset.

Pantai Watu Karung

Sunset’an di Raja Ampat nya Pacitan, Pantai Kasap

Digadang sebagai Raja Ampat nya Pacitan, Pantai Kasap menawarkan pemandangan yang luar biasa terutama saat sunset di atas bukit. Ini adalah salah satu alasan kaka CP meletakkan Pantai Kasap sebagai destinasi paling terakhir untuk menutup hari pertama dengan melihat sunset yang indah, ditemani oleh angin dan view laut, serta mendengar suara deburan ombak dari ketinggian.

Pantai Kasap
Pantai Kasap
Pantai Kasap

Matahari sudah full turun, langit mulai gelap, saat nya kami pulang dan tiba di Homestay Platar Ombo sekitar jam 19.30 untuk makan malam dan melepas lelah karena sudah seharian penuh explore banyak destinasi wisata.

Sunrise eksotis di Pantai Klayar

Pagi nya, gak semua dari kami ikutan sunrise. Berhubung hari ini acara bebas hingga jam 08.30 pagi, kami di perbolehkan hunting sunrise di sekitaran homestay Platar Ombo, salah satu nya ke Pantai Klayar yang terkenal dengan deburan ombak yang pecah di bibir pantai, dan di kedua sisi kanan-kiri bukit karang.

Selain itu, beberapa dari kami ada yang naik keatas gardu pandang untuk melihat sunrise lebih jelas dan menikmati pemandangan landscape Pantai Klayar dari ketinggian.

Pantai dengan Air Terjun, Banyu Tibo

Sekitar jam 09.00 pagi kami siap meninggalkan homestay dan bergegas ke Pantai Banyu Tibo yang menjadi salah satu destinasi wisata pantai anti-mainstream di Pacitan. Kenapa dikatakan begitu? Karena pantai ini di aliri air terjun alami yang mengalir langsung ke laut.

Selain view nya yang memukau, disini juga banyak warung yang menjual es kelapa. Beberapa dari kami juga sempat berteduh dan menikmati sebatok es kelapa untuk melepas sedikit hawa panas dan terik pagi itu.

Sebenarnya kami bisa turun dan menikmati langsung air terjun dan air laut beserta pasir putihnya, tapi berhubung air laut sedang naik, jadi kami gak diperbolehkan untuk turun demi keamanan semuanya. Tapi jujur ya, ambil foto dan video dari atas pun udah sangat bagus dari sisi engle mana pun, karena memang pantai nya udah sebagus itu.

Melihat stalaktit dan stalakmit di Goa Gong

11.30 kami sudah tiba di lokasi wisata terakhir yaitu Goa Gong, yang di juluki sebagai salah satu goa terindah di Asia Tenggara karena memiliki beragam bentuk dan ukuran stalaktit dan stalakmit. Nah, yang lebih amazing nya lagi, ada yang berbentuk seperti tirai dan itu terbentuk secara alami. Apalagi ditambah dengan lampu berwarna-warni di beberapa spotnya.

Untuk menyusuri Goa Gong kami harus turun terus kebawah, melewati jalur tangga yang sudah di sediakan. Jujur hawa di dalam nya cukup panas. Sedikit dari kami ada yang gak ikutan turun sampai bawah, termasuk aku nih. Jadi sambil nunggu temen-temen yang lain, aku menyempatkan diri untuk minum jamu bareng sama ka Adhe di pintu masuk goa.

Kelar semua nya, kami kembali kumpul di Warung Pecel Pincuk khas Pacitan di sekitaran Goa Gong untuk beristirahat. Oh iya, ini menjadi destinasi terakhir ya. Sekitar jam 13.00 kami kembali ke Elf dan bergegas berangkat menuju ke Yogya. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih 4 jam dengan melewati jalur berliku, dan naik-turun perbukitan lagi tentu nya.

Makan, Tertawa, dan Tidur adalah kami

Tepat jam 16.00 lewat sedikit, akhirnya kami bisa turun dari elf dan singgah di Warung Pethel Bakar Pak Kaji Papat untuk mengisi perut dan merenggangkan otot yang udah mulai sedikit kaku diperjalanan yang cukup panjang. Kelar dari sana, kami masih mampir ke Tempo Gelato untuk dessert. Karena memang dari awal trip hingga hari kami pulang, seolah-olah matahari enggan lepas dari atas kepala.

Tapi gak apa, justru itu bagus nya, kami diberi cuaca yang sangat cerah sehingga foto dan video yang di tangkap pun sangat bagus layaknya seperti bingkai lukisan alami.

Kami cukup lama di Tempo Gelato, setelah itu lanjut ke tempat oleh-oleh di Bakpia Pathok 25. Kalau udah ketempat oleh-oleh tahu kan artinya apa? Iya, arti nya trip explore Pacitan part 27 nya sudah selesai. Dan kami di drop ke masing-masing stasiun, ada yang ke Tugu dan Lempuyangan, bahkan ada juga yang extend.

Nah, begitulah kisah-kisah perjalanan kami yaaa,

Last but not least, perjalanan ini sangat seru dan berkesan sekali,  dan yang paling penting tepat waktu dan semua didatangi tanpa harus terburu-buru. Peserta nya juga keren, karena sangat disiplin, selain itu kaka CP nya juga perhatian terhadap kami terutama soal makan sampai kenyang dan selera tawa nya juga lucu, peserta nya pun berbaur, dan sangat terhibur, gak membosankan sama sekali pokoknya.

See you next trip guys!
Author : @febe_shinta

Disclaimer : Seluruh foto di artikel ini, milik peserta BPJ Explore Pacitan Part 27

Views: 18

Posting Liputan Trip Explore Pacitan Part 27 ditampilkan lebih awal di .



from https://ift.tt/6tbQxBi
via IFTTT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertolongan Pertama Jika Tersengat Biota Laut

Meningkatnya minat wisatawan dalam negeri maupun mancanegara mengunjungi Indonesia juga berdampak terhadap meningkatnya pengunjung yang menelusuri keindahan biota laut Indonesia. Selain mempersiapkan barang bawaan, kalian juga perlu membekali diri dengan pengetahuan tentang bahaya yang biasa terjadi didaerah tersebut guna mencegah jikalau ada kejadian yang tak diinginkan, salah satunya seperti tersengat binatang laut. Berikut tipsnya jika kalian tersengat binatang laut: 1. Ubur-ubur Banyak spesies ubur-ubur di Indonesia, mulai yang tak menyengat hingga yang bisa menyebabkan kematian. Ikuti langkah-langkah berikut jika tersengat ubur-ubur: Tetap tenang Keluar dari air laut Hentikan sengatan Lepaskan tentakel menggunakan kartu hindari kontak langsung Basuh dengan cuka atau backing soda, jika tidak ada gunakan air laut Basuh dengan air hangat selama kurang lebih 20 menit Balut luka dengan perban Segera ke rumah sakit terdekat untuk penanganan lebih lanjut Note!!! Hinda...

Liputan Trip Pendakian Gunung Via Selo Merbabu Part #4

Ini bukan tentang menggapai sesuatu menuju puncak. Tapi tentang bagaimana proses melaluinya bersama sama. Ya, begitulah slogan untuk pendakian gunung merbabu part #4 Backpacker Jakarta kali ini. Tepat nya pada tanggal 14 sampai 16 Juli 2017 dengan sharing cost sebesar Rp 325.157,-/orang, pendakian inipun terlaksana dengan meeting point di Sekretariat Backpacker Jakarta pukul 21.00. Pendakian kali ini digawangi oleh Cahyadi Arif @cahyadiarf dan Ramdhan @ramdhan19 dan di ikuti oleh 27 peserta lainnya dan bukan hanya itu, kesuksesan pendakian juga dibantu oleh tim backup yakni Amiral Arif, Inu dan Mamet. Nah, sebelum masuk lebih detail lagi, cus yuk kita cari tahu dulu mengenai gunung merbabu itu ada dimana sih ? atau ada berapa jalur disana ? Tentang Gunung Merbabu terletak di Jawa tengah dengan ketinggian 3.142mdpl dan puncak tertingginya yakni Kenteng Songo. Gunung Merbabu berasal dari kata “meru” yang berarti gunung dan “babu” yang berarti wanita. Gunung ini merupakan salah satu...

Pendakian Gunung Gede via Gunung Putri: Basecamp Mang Abenk, Murah & Servis Juara

Pendakian Gunung Gede via jalur Gunung Putri memang sudah lama jadi favorit banyak pendaki. Jalur ini terkenal dengan trek yang menanjak tajam sejak awal, tapi tetap memberikan pengalaman alam yang luar biasa: dari padang edelweis Surya Kencana, kabut pagi yang magis, sampai sunrise dari puncak yang menggetarkan hati. Namun di tengah tren basecamp yang makin banyak bermunculan dengan fasilitas serba “wah”, aku justru tetap setia kembali ke Basecamp Mang Abenk . Sederhana? Iya. Tapi servicenya luar biasa. Di sinilah aku merasa benar-benar disambut sebagai tamu, bukan sekadar pelanggan. Kelapa Harus Basecamp Mang Abenk? Pertama, biaya simaksi di sini jauh lebih ramah kantong. Hanya dengan bayar simaksi 1x, harganya sudah termasuk registrasi pendakian, asuransi, kamar untuk istirahat— tidak dicampur dengan pendaki lain . Ini jelas nilai plus, apalagi kalau kamu hiking dengan grup kecil dan ingin privasi atau quality time sebelum summit attack. Kedua, yang bikin pengalaman makin berk...