(Tulisan ini hanyalah opini saya) Banyak orang yg suka memisahkan urusan duniawi dengan urusan agama. Namun ironisnya, tanpa sadar cara berfikir kira justru sudah sekuler ketika memisahkan dunia dzikir dengan dunia pikir. Bisakah kita temukan kenikmatan dzikir mengingat-Nya ditengah tumpukan buku dan paper? Bisakah zikir membuat kita berpikir dan olah pikir membuat kita tetap berdzikir? Sejatinya, dalam zikir kita menemukan pikir, dan dalam pikir kita berdzikir mengingat-Nya. Bagi sebagian orang, teks keagamaan ibarat buku manual sebuah mesin. Ikuti huruf demi huruf dan kata demi kata yg ada dalam buku manual maka mesin akan bergerak. Jangan coba2 reading between the lines karna mesinnya bisa rusak. Sayang sekali, mereka lupa satu hal, bahwa kita manusia, bukan robot. Kita dikaruniai AKAL dan HATI untuk membaca teks suci. Hasil bacaan kitalah yang akan menghidupkan teks suci tersebut. Ini bukan sekedar memilih akal atau hati tapi bagaimana memilah kapan merespons masalah...